Tempat Wisata TerFaVorit

DAFTAR ISI

About Me

Foto Saya
Panorama NTB
Lihat profil lengkapku
Diberdayakan oleh Blogger.

Perempuan Sasak Terakhir

Perempuan Sasak Terakhir
Film yang mempromosikan Budaya dan Pariwisata di Pulau Lombok
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Tampilkan postingan dengan label Wisata Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wisata Budaya. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 17 September 2011

clip_image002

Gendang Beleq adalah adalah salah satu alat musik tradisional suku sasak di lombok. Gendang beleq sendiri artinya Gendang Besar karna ukurannya memeang besar melebihi ukuran normalnya.  Gendang Beleq diciptakan untuk mengiri dan menghibur para prajurit menuju medan perang dan menyabut kedatangan dari medan perang akan tetapi dengan perkembangan zaman gendang beleq digunakan untuk menyambut kedatangan tamu.

Gendang Beleq sendiri pada dasarnya merupakan alat musik akan tetapi lebih dari itu penyajian gendang beleq merupakan seni tari yang memeliki keunikan  dan ke khas an tertentu sebagai sebuat tarian.

Gendang Beleq terdiri dari 2 orang penabug gendang, 4 atau 6 orang penari oceh/oncer ( disebut demikian karena para penari sambil menari memegang alat musik copeh yang sewaktu-waktu di mainkan mengikuti irama musik ) dan 1 orang penari petuk ( membawa alat musik petuk yang dimainkan mengikuti irama musik), Selain itu masih banyak juga alat musik yang digunakan dalam penyajian gendang beleq ini seperti suling, gong, terumpang, kenceng, oncer, pencek.

clip_image001

Kebudayaan dapat dijadikan sebagai tolok ukur kepribadian dan kebiasaan rakyat setempat atau suatu daerah. Begitu juga peresean yang merupakan permainan adat Lombok. Peresean adalah pertarungan antara dua orang yang bersenjatakan alat pemukul (sebilah tongkat) dari rotan (penjalin) dengan tameng dari bahan kulit sapi/kerbau. Peresean juga bagian dari upacara adat di pulau Lombok dan termasuk dalam seni tarian suku sasak. Seni peresean ini menunjukkan keberanian dan ketangkasan seorang petarung (pepadu), kesenian ini dilatar belakangi oleh pelampiasan rasa emosional para raja dimasa lampau ketika mendapat kemenangan dalam perang tanding melawan musuh-musuh kerajaan, disamping itu para pepadu pada peresean ini mereka menguji keberanian, ketangkasan dan ketangguhan dalam bertanding.
clip_image002[4]
Tembang merdu lantunan Purnipa memecah gumpalan kabut dan menghangatkan tubuh dari cengkraman dinginnya malam yang menyelimuti Sembalun Bumbung, desa hijau di kaki Gunung Rinjani, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB). Larik demi larik, dadanggula, sinom, dan pangkur terus berlanjut syahdu. Alunannya semakin malam kian memukau penonton; mereka terlena, hanyut dalam cengkukan-cengkukan guru lagu cerita “Jatiswara”.
Tanpa disadari, ajaran dalam tembang menjadi pegangan hidup yang mendarah daging, warisan nenek moyang. Itulah papaosan, salah satu seni bersastra yang terus hidup di dalam masyarakat Lombok hingga kini. Tembang seperti itu dalam masyarakat Bali dikenal dengan mababasan atau macapatan dalam masyarakat Jawa.
clip_image001
Tari Gandrung

1. Asal-usul

Tari Gandrung merupakan sebuah tarian yang kini berkembang di tiga daerah, yaitu Banyuwangi, Bali, dan Lombok. Meskipun memiliki kemiripan, Tari Gandrung ketiga daerah ini memiliki ciri khas tersendiri yang tidak dimiliki di daerah yang lain. Demikian pula dengan yang terjadi pada Tari Gandrung yang ada di Lombok. Meskipun Lombok dan Bali memiliki kemiripan budaya, tetapi Tari Gandrung di Lombok memiliki ciri khas tersendiri yang berbeda dengan Tari Gandrung yang ada di Bali. Inilah ciri khas dari Lombok yang tidak dimiliki di Pulau Bali. ”Lombok sering digambarkan oleh orang luar sebagai versi kecil Bali. Tetapi penduduk Lombok sendiri akan mengatakan bahwa, `Anda akan melihat Bali di Lombok, tetapi tidak akan melihat Lombok di Bali`.” (Sepora Nawadi, 1995:14). Tulisan berikut ini secara khusus akan berbicara tentang Tari Gandrung yang berada di Lombok, Nusa Tenggara Barat beserta unsur simbolis yang tersaji dalam sebuah pertunjukkan Tari Gandrung.